Ber-Opini Series 2 (Kekerasan dan Kebandelan pada anak)


Sebagai individu tentu kita tidak dapat bertahan hidup dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri, dengan begitu kodrat kita sebagai manusia yg bermakhluk sosial selalu membutuhkan bantuan manusia lainnya.

Tempat terdekat untuk dimintai tolong adalah keluarga, mengapa demikian ? karena sebuah keluarga bukan hanya tempat untuk menyusun masa depan namun dengan keluargalah kita bertahan hidup hingga akhirnya mati.

Konotasi keluarga memang sangat melekat jika kita memahami arti penting keluarga bagi hidup kita, dengan berkeluargalah kita dididik, mendidik, mengembangkan diri, melepas penat, meluapkan segala amarah, tempat solusi terbaik dan masih banyak lagi.

Tapi, suatu ketika saya pernah membaca tentang sebuah artikel yang membahas tentang permasalahan didalam keluarga salah satunya yaitu tentang kekerasan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. Kekerasan disini bisa berupa kekerasan fisik maupun yg lainnya. Mungkin saya disini akan lebih beropini dengan kekerasan dalam fisik. Sebenernya, kekerasan fisik dizaman sekarang ini sudah tidak asing lagi karena dari zaman dulu juga kita telah mengenal tentang itu. Tetapi, dengan perlakuan orang tua yang menyiksa anaknya dengan cara yang biasa maupun sadis menurut saya kekerasan tetaplahh kekerasan.

Melihat sudut pandang dari orang tua, kekerasan fisik dengan relanya mereka lakukan terhadap anaknya bisa jadi itu merupakan tindakan bernilai positif dengan harapan anaknya menjadi lebih baik atau permasalahan dalam keluarga dapat terselesaikan, namun mungkin saja bisa menjadi tindakan bernilai negatif dengan alasan sang orang tua jengkel, marah, kesal atau bahkan kecewa terhadap tindakan sang anak yang kurang berkenan dimata orang tua, misalnya; seorang anak yang ketahuan bolos sekolah, terlibat tawuran dan permasalahan lainnya.

Sedangkan, melihat secara sudut pandang seorang anak, tentu saya tidak menginginkan kekerasan itu dilakukan kepada saya. Mengapa? setiap permasalahan apapun pasti dapat diselesaikan tanpa kekerasan. Kita melakukan kesalahan apapun bentuknya baik itu wajar atau melampaui batas merupakan bentuk pencarian jati diri  pertumbuhan saya. Karena setiap anak selalu melihat tindakan orang tua dengan pemikiran yang berbeda. Kekerasan fisik juga dapat menembus langsung kepada kekerasan batin. Saya percaya orang tua yang melakukan tindakan kekerasan bisa jadi itu adalah pelajaran terbesar yang harus dipahami namun, alangkah lebih baiknya kekerasan itu tidak dilakukan karena dengan begitu kekerasan yang mereka lakukan juga akan terus berkembang hingga kekerasan itu tiada dilakukan. Kami mungkin tidak mengerti bagaimana caranya dengan baik dan benar untuk meminta maaf kepada orang tua, maka dari itu komunikasilah kepada kami dengan sesering mungkin. Karena, bisa jadi  setiap anak ada yg merasa bahwa orang tua bukanlah tempat curhat terbaik.

Coba kita lihat lagi menurut sudut pandang orang tua terhadap anaknya yang bandel atau susah dibilangin dsb. kalau saya menjadi orang tua melihat anak saya yang mempunyai perilaku seperti demikian, itu menjadi tanggung jawab saya sebagai orang tua, karena apa yang mereka lakukan merupakan bentuk didikan saya. Jika sudah terlanjur, mendidiknya bukan dengan kekerasan pula namun dengan tindakan yang halus dengan memberinya gambaran bahwa menjadi anak bandel tidak ada bonafitnya dan terus memberikan konsekuensi jika ia melanggar kembali perilaku bandelnya itu. Selain itu perbekalan iman adalah cara terbaik dapat dilakukan untuk anak yang bandel.

Dengan begitu setiap permasalahan di keluarga baik kecil maupun besar dapat diatasi dengan baik benar. :))
 Sekian episode beropini kali ini ")
Sampai jumpa diberopini selanjutnya


Komentar

Postingan Populer